Total Tayangan Halaman

Senin, 02 Februari 2015

 SELAMAT JALAN PAMAN



Tanggal 28 Januari 2015, encik saya,(panggilan adat betawi berarti paman)  menghembuskan nafas terakhir pukul 19.00 wib,dicondet,setelah sebelumnya dirawat dirumah sakit polri,kramat jati. Beliau menyusul  almarhum ayahnya (kakek saya), yang  6 bulan sebelumnya lebih dulu meninggalkan beliau.  Beliau anak ke-dua dari 8 bersaudara keluarga besar dari ayah saya. Semasa hidup banyak kenangan bersama beliau. Beliau termasuk paman saya yang humoris dengan dialek betawi yang cukup kental. Beliau sangat hobi bermain catur. Saya termasuk salah satu lawan tandingnya ketika berkunjung kerumah beliau. Kadang saya kalah;kadang menang. Hal yang pasti adalah ketika bermain catur diteras rumahnya,pasti ada saja cemilan yang dikeluarkan  untuk mengisi kami bermain catur. Bukan hanya saya yang menjadi lawan,paman-paman saya yang lain   bahkan warga setempat Juga sering menjadi lawan tandingnya. Rumah paman saya dijadikan markas   mengisi permainan catur  yang konon katanya   permainan ini sudah ada ribuan tahun yang lalu. Bahkan menantu sekaligus sahabat nabi saw, Ali ibn abi Thalib, sangat mengemari permainan yang satu ini. Paman saya ini, sebelum menderita penyakit gula,tubuhnya termasuk tambun. Padahal, tidak ada gen dalam keluarga besar ayah saya yang menderita penyakit gula. Karena tubuhnya tambun, beliau mendapat julukan panggilan dalam keluarga besar ayah saya maupun panggilan teman sejawatnya,dengan panggilan: Bagol. “Bagol”  dalam bahasa betawi, secara harfiah berarti besar,gede, atau gemuk. Teringat lagu bang haji Rhoma Irama, “begadang jangan begadang”. Beliau termasuk gemar  begadang dan tidak menjaga pola makannya. Hal ini yang menyebabkan paman saya terserang penyakit gula darah,sehingga tubuhnya menjadi sangat kurus saat melawan penyakit gulanya itu. Tidak jarang saya suka menemukan pemeo-pemeo  lucu istri beliau---yang membuat saya tertawa,ketika itu penyakit gulanya masih sebatas gejala,belum kronis. Misalnya “kalong” (kelawar) : malam jadi siang,siang jadi malam”,cetus istri. Karena tidak mampu menjaga pola makan dan tidur dengan baik, beliaupun melupakan untuk menjaga kesehatan dirinya sendiri. Padahal saya sering menasehati beliau, agar menjaga pola tidur maupun pola makannya.  Dalam usia 57 tahun, beliau meninggalkan 8 anak kandung, empat laki-laki; ke-empatnya lagi perempuan.


Hukum Islam dan Adat Betawi

Setelah jenazah dimandikan,saya ikut membantu mengantar keranda jenazah sampai mesjid untuk disholati, kebetulan mesjidnya itu tidak jauh dari rumah kediaman beliau. Dalam adat betawi yang saya pahami, biasanya ada seorang wali (ustad) memberikan pemaparan riwayat sang almarhum. Yang menarik perhatian saya, begitu sangat religiusnya masyarakat betawi dari dulu hingga kini masih bepegang hukum adat yang tidak bertentangan dengan hukum islam. Kalo kita telaah dari akar historis maupun sosiologis betawi, hukum islam sebenarnya sudah ada sejak berabad-abad yang lalu  hukum islam hidup ditengah-tengah masyarakat Indonesia. Bahkan didalam kehidupan masyarakat betawi, hukum Islam dijadikan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan masyarakat betawi (batavia) pada saat itu.  Sehingga, pihak belanda-pun mempelajari hukum Islam untuk mengkompilasikannya kedalam kitab Compendium Freijer yang terkenal itu   dengan menggunakan bahasa  melayu arab dan dalam bahasa belanda, ditahun 1740. Karena batavia sebagai pusat kekuasaan belanda dijamannya,maka pihak belanda menjadikan kitab kompendium itu sebagai aturan pegangan para hakim untuk diberlakukan dipulau jawa. Bahkan pada merasa kerjaan nusantara dulu, hukum Islam didukung ulama-ulama dan diterima oleh penguasa politik, raja-raja maupun kesultanan. Kembali kepada topik pembahasan tulisan, kereligusan masyarakat betawi menjadi tradisi hingga kini, tak jarang banyak yang masih mempertahankan adat istiadat hukum betawi jika tidak bertentangan dengan hukum-Nya. Kalo anda melihat gambar dibawah ini,
kita bisa lihat ada dua batang bambu dengan sebuah papan yang berisi beras. Gunanya beras tersebut adalah untuk membayar fidyah almarhum yang selama sakit  tidak dapat menunaikan kewajibanya sebagai seorang muslim. Didalam mesjid, si wali hakim (ustad) yang mewakili keluarga almarhum,meminta kepada seluruh para pentakziah yang datang dimesjid dibagi dua kubu. Kubu yang sebelah kanan maupun kiri. Setelah membacakan perjalanan ibadah yang tidak dapat ditunaikan almarhum, maka sebagai pengganti, si wali mengumumkan untuk diganti (fidyah) untuk diberikan kepada pentakziah (yang mau menerima) yang berada disebelah kanan maupun kiri. Para pentakziah pun berperan bukan hanya sebagai pentakziah, tetapi juga berperan sebagai juri. Setelah dikonfirmasi oleh wali hakim, para pentakziah pun mengucapkan: “diterima fidyahnya”. Maka selanjutnya tugas pendorong alat itu, mendorong kekiri-kekanan jika si wali hakim membacakan amal sebagai pengganti (fidyah) almarhum sekaligus mengkonfirmasi kepada pentakziah sebelah kiri,dan sebaliknya. Secara simbolik, alat itu mengkonfirmasi bahwa fidyah si almarhum dapat diterima. Saya tidak tahu asal muasal alat tersebut. Tapi yang jelas,begitu kayanya bangsa ini  dengan berbagai macam adat istiadat. Entah sampai kapan- eksistensi adat ini tetap eksis. Melihat di era-globalisasi  yang begitu derasnya budaya bangsa lain masuk. Bahkan ada yang lebih bangga dengan budaya bangsa lain,dibanding budaya sendiri.  Mudah-mudahan kita tetap mencintai budaya adat istiadat bangsa ini. Hal menarik yang perlu kita ketahui, ketika Rosihan Anwar berbicara kepada Muhammad Hatta, mereka berdua tidak pernah menggunakan bahasa minang,mereka lebih sering berbicara dengan bahasa asing, kebanyakan bahasa belanda, ketimbang bahasa tempat kelahirannya. Padahal mereka berdua adalah orang minang,padang. Tapi entah kenapa, ketika M.Hatta yang lebih dulu meninggalkan Rosihan Anwar, M.Hatta untuk terakhir kalinya bercakap dengan Rosihan Anwar dengan Bahasa minang,padang. Mungkin secara tidak langsung Tokoh proklamator itu ingin menyampaikan, ini identitas kita sebenarnya. Begitupun dengan paman saya ,iya meninggakan identitasnya sebagai orang Indonesia, dari suku betawi. Dan saya pun bangga menjadi orang betawi. Kepada-Nyalah kita kembali dengan identitas kita sebenarnya. Waallahuaalam.


gambar 

 accurations.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar