Terkadang manusia terlalu larut dalam gagasan jalaliyah hingga melupakan nilai-nilai jamaliyah. Padahal, ketika membaca 99 Asmaul Husna, kita akan menemukan bahwa Allah Swt. memiliki sifat-sifat jalaliyah dan jamaliyah sekaligus.
Dalam The Tao of Islam, Sachiko Murata menerjemahkan kata jalal sebagai His Majesty dan jamal sebagai His Beauty. Jalal merepresentasikan dimensi keagungan dan kekuasaan Allah, sedangkan jamal menggambarkan kasih sayang, kelembutan, dan cinta-Nya.
Sifat-sifat jamaliyah tampak dalam nama-nama Allah seperti Ar-Rahman (Maha Pemurah), Ar-Rahim (Maha Pengasih), Al-Latif (Maha Lembut), dan Al-Basith (Maha Melapangkan). Sementara sifat jalaliyah tercermin dalam nama-nama seperti Al-Aziz (Maha Perkasa), Al-Jabbar (Maha Kuat), dan Al-Mutakabbir (Maha Memiliki Kebesaran).
Dua dimensi tersebut bukanlah sesuatu yang hadir tanpa makna. Keduanya merupakan bentuk keseimbangan kosmik yang sengaja dihadirkan Allah bagi umat manusia, sebagaimana siang dan malam, matahari dan bulan, laki-laki dan perempuan. Jalaliyah dan jamaliyah saling melengkapi.
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering kali lebih diperkenalkan pada “wajah” Allah melalui dimensi jalaliyah-Nya. Banyak orang tua mendidik anak untuk beribadah dengan pendekatan rasa takut terhadap azab, murka, dan hukuman Tuhan. Akibatnya, ibadah dijalankan karena keterpaksaan, bukan karena cinta dan kesadaran spiritual.
Padahal, kedua dimensi tersebut tidak dapat dipisahkan. Pendidikan spiritual yang sehat membutuhkan keseimbangan antara rasa takut (khauf) dan rasa cinta (mahabbah). Anak perlu mengenal Allah bukan hanya sebagai Tuhan Yang Menghukum, tetapi juga sebagai Tuhan Yang Maha Mengasihi.
Ketika dikaji lebih jauh, Al-Qur’an justru lebih banyak menampilkan dimensi jamaliyah dibandingkan jalaliyah. Hal ini menunjukkan bahwa kasih sayang Allah jauh lebih besar daripada murka-Nya. Dalam QS. Al-An’am ayat 12 disebutkan:
“Kataba ‘ala nafsihir rahmah”
(Allah telah menetapkan kasih sayang atas diri-Nya sendiri).
Demikian pula dalam QS. Al-A’raf ayat 156:
“Wa rahmati wasi’at kulla syai’”
(Kasih sayang-Ku meliputi segala sesuatu).
Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa fondasi hubungan Tuhan dengan manusia dibangun di atas cinta kasih.
Islamisasi Walisongo dan Dimensi Jamaliyah
Dalam tradisi tasawuf, istilah “wali” berkaitan dengan walayah, yang berarti wilayah atau kepemimpinan spiritual. Para wali dipandang sebagai figur yang memimpin masyarakat, minimal dalam dimensi rohani.
Habib Anis Bachsin pernah menjelaskan bahwa ketika seseorang mencapai titik tobat yang mendalam, cara pandangnya terhadap realitas akan berubah secara total. Sesuatu yang dahulu dianggap tinggi bisa dipandang hina, dan sesuatu yang dahulu dianggap rendah justru menjadi mulia. Tobat melahirkan kesadaran baru.
Proses islamisasi di Jawa merupakan hasil perjuangan panjang para wali, khususnya Walisongo. Islamisasi tersebut sebagian besar berlangsung damai dan minim konflik sosial maupun politik. Penduduk Jawa menerima Islam secara sukarela tanpa pemaksaan budaya ataupun kekerasan berskala besar.
Catatan perjalanan Marco Polo pada tahun 1291 hingga ekspedisi Cheng Ho pada 1405 menunjukkan bahwa Islam belum berkembang luas di Nusantara. Namun setelah hadirnya Walisongo, perkembangan Islam berlangsung sangat cepat. Dalam waktu kurang lebih 40 tahun, wilayah pesisir utara Jawa hingga pedalaman mulai dipimpin oleh penguasa Muslim.
Menurut catatan Ma Huan, juru tulis Cheng Ho, pada tahun 1433 masyarakat pedalaman Jawa masih banyak yang belum memeluk Islam. Pertanyaannya kemudian, mengapa Islam berkembang begitu cepat pasca-Walisongo?
Salah satu jawabannya terletak pada pendekatan dakwah yang menonjolkan dimensi jamaliyah. Walisongo memahami kondisi sosial masyarakat Jawa pada masa akhir Majapahit yang mengenal stratifikasi “gusti” dan “kawula”. Rakyat kecil diposisikan sebagai objek kekuasaan kerajaan dan nyaris tidak memiliki hak sosial maupun politik.
Dalam kondisi tersebut, Walisongo memperkenalkan konsep kemanusiaan Islam yang lebih egaliter. Mereka memperkenalkan istilah “masyarakat” yang berasal dari kata Arab musyarakah, yang berarti kerja sama atau gotong royong.
Walisongo juga melakukan transformasi mental masyarakat Jawa. Pada masa itu, budaya adigang, adigung, adiguna sangat kuat. Seseorang merasa mulia ketika mampu menundukkan orang lain. Catatan Antonio Pigafetta tahun 1522 juga menggambarkan kerasnya budaya harga diri masyarakat Jawa saat itu.
Melalui dakwah yang lembut, Walisongo memperkenalkan nilai-nilai seperti sabar, tawaduk, adil, dan mengalah. Kata “ngalah” bahkan dimaknai sebagai proses menuju Allah. Pendekatan inilah yang membuat dakwah Islam berkembang progresif di Nusantara.
Islam yang dibawa Walisongo tidak sekadar berbicara soal hukum dan kekuasaan, tetapi juga cinta kasih, penghormatan terhadap manusia, dan harmoni sosial. Dakwah mereka menampilkan wajah Islam yang ramah dan membumi.
Vigilantisme Bukan Bagian dari Islam
Dalam konteks kekinian, sangat disayangkan apabila ada kelompok yang menampilkan wajah Islam melalui kekerasan, penghasutan, vandalisme, atau tindakan anarkis. Islam yang rahmatan lil ‘alamin justru bertentangan dengan praktik vigilantisme yang mengatasnamakan agama.
Penolakan terhadap Basuki Tjahaja Purnama sebagai Gubernur DKI Jakarta, misalnya, banyak dipengaruhi sentimen agama dan identitas. Padahal, sejarah Islam menunjukkan bahwa keadilan dan integritas jauh lebih penting dibanding identitas formal semata.
Ali bin Abi Thalib pernah menyampaikan bahwa pemimpin non-Muslim yang adil lebih baik daripada pemimpin Muslim yang zalim. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa moralitas dan keadilan adalah inti kepemimpinan dalam Islam.
Sejarah juga mencatat bagaimana Piagam Madinah menjadi fondasi kehidupan sosial yang menghargai pluralitas. Piagam tersebut menunjukkan bahwa Islam menerima perbedaan sebagai realitas sosial dan politik.
Karena itu, masyarakat tidak seharusnya mudah terprovokasi oleh kelompok yang mencoreng wajah Islam dengan tindakan intoleran. Terlebih jika tindakan tersebut sarat kepentingan politik dan manipulasi sentimen identitas.
Islam mengajarkan kasih sayang, keadilan, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Nilai-nilai itulah yang semestinya terus dijaga dalam kehidupan berbangsa dan beragama di Indonesia.
Semoga umat Islam mampu mengambil hikmah dari perjalanan sejarah bangsa ini untuk terus menjunjung tinggi toleransi, demokrasi, dan nilai-nilai kemanusiaan universal. Semoga Allah Swt. memberikan kemudahan dalam setiap urusan, dan hanya kepada-Nya kita berserah diri
GAMBAR : isyraq.wordpress.com