SELAMAT JALAN PAMAN
Tanggal 28 Januari 2015, encik
saya,(panggilan adat betawi berarti paman)
menghembuskan nafas terakhir pukul 19.00 wib,dicondet,setelah
sebelumnya dirawat dirumah sakit polri,kramat jati. Beliau menyusul almarhum ayahnya (kakek saya), yang 6 bulan sebelumnya lebih dulu meninggalkan
beliau. Beliau anak ke-dua dari 8
bersaudara keluarga besar dari ayah saya. Semasa hidup banyak kenangan bersama
beliau. Beliau termasuk paman saya yang humoris dengan dialek betawi yang cukup
kental. Beliau sangat hobi bermain catur. Saya termasuk salah satu lawan
tandingnya ketika berkunjung kerumah beliau. Kadang saya kalah;kadang menang. Hal
yang pasti adalah ketika bermain catur diteras rumahnya,pasti ada saja cemilan
yang dikeluarkan untuk mengisi kami
bermain catur. Bukan hanya saya yang menjadi lawan,paman-paman saya yang lain bahkan warga setempat Juga sering
menjadi lawan tandingnya. Rumah paman saya dijadikan markas mengisi permainan catur yang konon katanya permainan
ini sudah ada ribuan tahun yang lalu. Bahkan menantu sekaligus sahabat nabi
saw, Ali ibn abi Thalib, sangat mengemari permainan yang satu ini. Paman saya
ini, sebelum menderita penyakit gula,tubuhnya termasuk tambun. Padahal, tidak
ada gen dalam keluarga besar ayah saya yang menderita penyakit gula. Karena tubuhnya
tambun, beliau mendapat julukan panggilan dalam keluarga besar ayah saya maupun
panggilan teman sejawatnya,dengan panggilan: Bagol. “Bagol” dalam bahasa betawi, secara harfiah berarti
besar,gede, atau gemuk. Teringat lagu bang haji Rhoma Irama, “begadang jangan
begadang”. Beliau termasuk gemar
begadang dan tidak menjaga pola makannya. Hal ini yang menyebabkan paman
saya terserang penyakit gula darah,sehingga tubuhnya menjadi sangat kurus saat
melawan penyakit gulanya itu. Tidak jarang saya suka menemukan pemeo-pemeo lucu
istri beliau---yang membuat saya tertawa,ketika itu penyakit gulanya masih
sebatas gejala,belum kronis. Misalnya “kalong” (kelawar) : malam jadi siang,siang jadi malam”,cetus istri. Karena tidak mampu
menjaga pola makan dan tidur dengan baik, beliaupun melupakan untuk menjaga
kesehatan dirinya sendiri. Padahal saya sering menasehati beliau, agar menjaga
pola tidur maupun pola makannya. Dalam
usia 57 tahun, beliau meninggalkan 8 anak kandung, empat laki-laki; ke-empatnya
lagi perempuan.
Hukum Islam dan Adat Betawi
Setelah jenazah dimandikan,saya
ikut membantu mengantar keranda jenazah sampai mesjid untuk disholati, kebetulan
mesjidnya itu tidak jauh dari rumah kediaman beliau. Dalam adat betawi yang
saya pahami, biasanya ada seorang wali (ustad) memberikan pemaparan riwayat
sang almarhum. Yang menarik perhatian saya, begitu sangat religiusnya
masyarakat betawi dari dulu hingga kini masih bepegang hukum adat yang tidak
bertentangan dengan hukum islam. Kalo kita telaah dari akar historis maupun
sosiologis betawi, hukum islam sebenarnya sudah ada sejak berabad-abad yang lalu hukum islam hidup ditengah-tengah
masyarakat Indonesia. Bahkan didalam kehidupan masyarakat betawi, hukum Islam
dijadikan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan masyarakat betawi (batavia)
pada saat itu. Sehingga, pihak
belanda-pun mempelajari hukum Islam untuk mengkompilasikannya kedalam kitab Compendium Freijer yang terkenal itu dengan menggunakan bahasa melayu arab dan dalam bahasa belanda, ditahun
1740. Karena batavia sebagai pusat kekuasaan belanda dijamannya,maka pihak
belanda menjadikan kitab kompendium itu sebagai aturan pegangan para hakim
untuk diberlakukan dipulau jawa. Bahkan pada merasa kerjaan nusantara dulu,
hukum Islam didukung ulama-ulama dan diterima oleh penguasa politik, raja-raja
maupun kesultanan. Kembali kepada topik pembahasan tulisan, kereligusan
masyarakat betawi menjadi tradisi hingga kini, tak jarang banyak yang masih
mempertahankan adat istiadat hukum betawi jika tidak bertentangan dengan
hukum-Nya. Kalo anda melihat gambar dibawah ini,
kita bisa lihat
ada dua batang bambu dengan sebuah papan yang berisi beras. Gunanya beras
tersebut adalah untuk membayar fidyah almarhum yang selama sakit
gambar
accurations.wordpress.com
