Total Tayangan Halaman

Sabtu, 22 November 2014

Dua dimensi-Nya




 

Terkadang manusia terlalu larut terhadap  gagasan jalaliyah, sehingga kita melupakan nilai-nilai jamaliyah.  Kalo kita membaca 99 Asmaul husna (nama-nama MuliaNya) kita akan menemukan sifat-sifat Jamalliyah dan Jallaliyah Allah swt.
Sachiko Murata dalam The Tao of Islam, menerjemahkan kata jalal dengan His Majesty dan kata jamal dengan His Beauty. Jika jalal berhubungan dengan zat Allah, maka jamal berhubungan dengan sifat-sifat Allah.
Jamaliyah adalah sifat-sifat Allah yang Maha Pemurah (Ar-rahman),Maha Pengasih (Ar-rahim),Memberi Nikmat ( Al-basith), Maha lembut (Al-latief) dst. 
Jalaliyah adalah sifat-sifa maskulin  Allah swt yang Maha berkuasa (Al-Aziz),Maha kuat (Al-jabbar), Maha memiliki Kebesaran (Al-muttakbir) dst.
Dua dimensi  ini bukan tanpa tidak terencana. Gambaran yang serba sepasang ini pasti disengaja dipersembahkan untuk ummat-Nya; layaknya ada siang ada malam; matahari dan bulan;  pria dan wanita; dst.
Ya, sifat ini, sesungguhnya Allah menyentuhmu dengan sifat Jalaliyah dan jamaliyah tanda bahwa Dia ada. Dalam kehidupan, kita akan membawa sifat-sifat ini dalam kehidupan kita. Bahkan, terkadang,para orang tua memberikan pemahaman kepada anaknya (untuk ibadah: shalat dll) memperkenalkan “wajah Allah swt” dengan  sifat-sifat Jalal-Nya. Sehingga para orang tua lupa memperkenalkan sifat-sifat jamaliyah-Nya. Hal ini menjadi pedagogis para orangtua, si anak menjadi “terpaksa” atau karena “takut” akan azab-azab-Nya menjalankan Ibadah kepada-Nya,karena takut akan kemurkaan-Nya dan lain sebagainya. Seperti yang telah dipaparkan diatas, dua dimensi tersebut tidak bisa dipisahkan. Kedua-duanya sama-sama dibutuhkan,terlebih untuk kehidupan kita bahkan untuk pola mendidik anak dengan dua dimensi tersebut. Sisi kosmik yang harmonis dan saling melengkapi.

Ketika dikaji lebih jauh  dalam alqur’an, jumlah Asma Allah dalam dimensi jamaliyah ditampilkan jauh lebih banyak  dibandingkan dimensi jalaliyah-Nya. Ini menunjukkan bahwa kasih sayang Allah jauh lebih besar dari sifat  ke-maskulinan-Nya, ampunan Allah jauh lebih  besar dari adzab-Nya. Dalam Qs. 6 : 12 disebutkan “Kataba ala nafsih ar rahmah“ (Allah telah mewajibkan atas dirinya memiliki sifat cinta kasih) Dalam Qs. 7 : 156 “Warahmati wasiat kulla sya’  (dan kasih sayangKu meliputi segala sesuatu).3  


Islamisasi Walisongo (Dimensi Jamaliyah)
“Wali” dalam pengertian para sufi adalah walayah (bahasa indonesia: wilayah), setiap wali itu memimpin wilayah (minimal secara rohani). Dalam pandangan kaum sufi: Sufi itu jernih dan suci. Habib Anis bachsin mengatakan, ketika manusia dalam titik “tobat” manusia bisa mencapai titik tersebut. Dimana (kulminasi) berpikir berubah tentang realitas. Semua apa yang dia ketahui berubah pikirannya. Yang tadinya tinggi dianggap hina; yang dianggap rendah menjadi mulia; yang rendah dianggap tinggi; yang hina dianggap mulia; semua berpikir secara terbalik. Proses islamisasi Jawa adalah hasil perjuangan dan kerja keras para wali-wali Allah swt,proses islamisasi ini sebagian besar berjalan secara damai, nyaris tanpa konflik baik sosiokulturalnya maupun politik----meskipun terdapat konflik---skalanya sangat kecil----sehingga tidak mengesankan sebagai perang kekerasan ataupun pemaksaan budaya. Penduduk Jawa menganut Islam dengan sukarela.  Dari catatan Marcopolo (1291) hingga Laksamana Cheng Ho (1405) Islam belum  berkembang di Nusantara. Menurut catatan, 800 tahun Islam tidak bisa diterima pribumi secara masal. Baru, pasca walisongo, islam bisa berkembang secara progresif hanya kurang lebih tempo 40 tahun. Bahkan sepanjang pantai Utara jawa dan pedalaman (para penguasa) Raja dan Adipati sudah memeluk Islam.  Padahal  sebelumnya, menurut catatan Juru tulis Laksaman Cheng Ho yang bernama Ma-Huan--ditahun 1433 kunjungan terakhir Laksamana Cheng Ho ke-Nusantara----penduduk pedalaman masih kafir. Hal ini membawa kita kepertanyaan para sejarah dan pertanyanan akademis: “Mengapa begitu cepat Islam berkembang di Nusantara pasca kedatangan Walisongo?”  Ada beberapa metode Islamisasi selain sinkretisasi yang dilakukan oleh Walisongo yang pada saat itu, dari aspek sosial pada zaman majapahit mempunyai 2 varian tataan masyarakat. Pertama, Gusti (Tuan). Kedua, kulo (masyarakat sipil dianggap budak). Kulo ,Masyarakat sipil (budak) tidak mempunyai hak perdata pada saat zaman kerajaan majapahit. Semua milik kerajaan. Dalam konteks Negara, semua yang dimiliki rakyat punya Negara.
 Kerajaan bisa mengambil apapun yang dipunya masyarakat sipil (Kulo) termasuk anak mereka untuk tumbal. Tentu saja, walisongo menganggap hal tersebut bertentangan dengan ajaran Islam. Karena penciptaan manusia didasari sifat kasih sayang Tuhan, maka yang timbul adalah perasaan cinta (mahabbah), sehingga posisi kita terhadap Tuhan dalam dimensi ini bukan lagi sebagai seorang hamba, melainkan sebagai seorang khalifah (wakil Tuhan). Itu artinya, hanya manusialah satu satunya diantara seluruh mahluk di alam semesta yang mendapat kepercayaan Tuhan mengenakan jubah kehormatan sebagai wakilnya di bumi. Maka, walisongo, mengubah tataan tersebut; dan membuat struktur masyarakat baru. Bernama “masyarakat” yang diambil dari bahasa arab yaitu “musyarokah” artinya adalah “kerjasama-gotong royong”. Walisongo tampaknya tahu betul “watak” masyarakat jawa pada saat itu sangat arogan. Dalam kampenye jokowi dipilpres 2014 menggunakan jargon: “Revolusi mental”. Walisongo juga merevolusi mental masyarakat jawa pada saat itu. Masyarakat jawa pada zaman itu sangat bangga ketika berhasil menundukan dan merendahkan orang lain. Prinsip itu dikenal dengan istilah jawa: Adigang,adigung,adiguno. Arogansi orang jawa dicatat juga oleh Antonio Pigafetta 1522. Bahkan, kalo ada orang asing yang berjalan ditempat yang lebih tinggi akan disuruh turun; kalo tidak mau turun diancam dibunuh. Kalo keduanya tidak mau mengalah,maka pilihannya: berkelahi sampai mati. Tidak ada kata “kalah” buat orang jawa pada zaman itu, mereka tidak mau dikalahkan, terlebih persoalan harga diri. Barulah pada zaman walinsongo meresepir kata “ngalah” dari bahasa arab yaitu “menuju Allah swt”. Kemudian walisongo mengenalkan istilah baru yaitu “sabar”, “adil” “tawadu” yang juga diambil dari akar kata bahasa Arab.  Inilah yang membuat dakwah walisongo begitu progresif di-Nusantara. Walisongo memperkenalkan dimensi-dimensi Jamaliya-Nya selain metode sinkretisasi kepada masyarakat jawa, yang kemudian berkembang ke-Nusantara. Begitu berlikunya perjalanan proses perkembangan Islam, sehingga (kita) sangat amat menyayangkan jika ada pihak-pihak yang mengkontradiksi ajaran Islam yang rahmatan lil alamin khususnya islam “pentungan” kata alm.Gusdur. Seperti  cara-cara penghasutan,vandalisme,bahkan cenderung kearah anarkisme dilakukan FPI yang menolak AHOK sebagai gubernur DKI jakarta.

 Vigilantisme bukan bagian Islam
berangkat dari sentimentil agama, AHOK yang non-muslim dan juga dari kalangan minoritas menjadi dasar  penolakan tersebut. Pertanyaan timbul, kenapa kalo pemimpin dari kalangan non-muslim jadi pemimpin? Bukankah Imam Ali kwh mengatakan: Bahwa pemimpin dari non-muslim lebik baik dari pada pemimpin muslim tapi dhalim.” Ada yang bilang: “Ah, Imam Ali hanya manusia, sama seperti kita”. Lalu, bukankah Rasulullah mengatakan bahwa: "Ali adalah gerbang ilmu, akulah kotanya. Jika ingin mengetahui ilmu, maka belajarlah lewat pintunya”. Saya berpikir sebuah kerugian besar buat umat muslim, jika berangkat dari sentimen Agama,suku ,dan ras. Jelas,yang dirugikan umat muslim akan hal ini. Sejarah juga mencatat, bagaimana piagam madinah dalam pengertian konstitusi modern. Piagam madinah adalah pesan kepada seluruh Umat Nabi Muhammad saw, bahwa Islam menerima perbedaan secara tekstual maupun kontekstual. Perbedaan adalah realitas, siapa yang mengabaikan realitas, maka dia orang yang mengabaikan pemikiran,ide,sejarah dan nilai-nilai mulia. Saya hanya menghimbau kepada masyarakat DKI khususnya, jangan terprovokasi oleh pihak yang dengan sengaja mencoreng Islam kewajah publik dengan nilai-nilai yang bukan wajah Islam sebenarnya. Terlebih lagi ada kepentingan politisi yang ingin mencuri kesempatan dalam kesempitan untuk mengimpeach Ahok. Semoga Umat muslim bisa mengambil hikmah dari perjalanan bangsa kita untuk menjunjung tinggi toleransi dan nila-nilai demokrasi. Semoga kita diberi kemudahan dalam segala urusan,hanya kepada diri-Nyalah kita berserah..